Dibalik Kawasan Wisata Pringondani


Di antara banyak petilasan Gunung Lawu ada satu yang akrab dengan keseharian penduduk Tawagmanggu, yakni Pringondani atau Pringgodani pertapaan nun jauh di atas gunung. Letak pringondani di Leurahan Blumbang Kecamatan Tawangmangu Kabupaten Karanganyar, hanya bisa dicapai dengan berjalan kaki. Kali ini benar-benar naik gunung.

Hanya butuh waktu setengah jam berjalan kaki dari lokasi parkir sepeda motor untuk mencapai Pringondani. Menuju ke Pringondani ada jalanan datar yang ternyata pendek lantas mulailah tanjakan-tanjakan kesabaran berkelok-kelok di antara pohon-pohon pinus, menyusuri lekuk gunung, melewati pohon yang melengkung membentuk gerbang, tetapi tidak dijumpai ranting-rantingnya.

Hanya batang pohon tertancap, satu ujungnya di tanah, batangnya melengkung, lantas ujung lainnya menancap di dinding gunung. Ada aroma hio yang kuat, tetapi tidak ditemukan di mana hionya. Akan berpapasan dengan orang-orang ramah, tidak kenal tetapi semua menegur para wisatwan yang datang.

Setengah perjalanan bisa ditemui satu warung minum, tempat berziarah sejenak bisa beirsitirahat, minum dan lainnya. Di sinilah kamu bertemu dengan beberapa ibu dan bapak yang menjadi msayarakat setempat yang jasanya bisa disewa untuk satu keluarga dari Surabaya untuk membawa barang-barang dari lokasi parkir ke Pringondani.

Setelah sampai di atas para pengunjung dapat menemukan warung yang menjual mie rebus denga teh tubruk hangat, teh hasil bumi Lawu dan diolah sendiri oleh penduduknya ini memiliki aroma yang unik. Tidak ada tambahana wangi melati, hanya aroma pucuk teh plus aroma hangus yang di dapat saat pengolahan.

Warung-warung makan di Tawangmangu umumnya tidak mau menggunakan teh lokal karena aroma hangusnya itu dan lebih suka membeli teh kemasan. Hanya warung di ujung gunung yang bertahan menggunakan teh hasil bumi Lawu. Hal yang bisas dilakukan oleh para penziarah jika menginap di petilasan. Umumnya semalam.

Ada ruangan di samping sanggar tersedia untuk mereka yang menginap. Keluarga dari Surabaya itu menginap di satu petak rumah di samping warung makan. Tidak ditarik bayaran, kecuali pengganti biasaya makan.

0 Response to "Dibalik Kawasan Wisata Pringondani"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel